Menyalakan Semangat di Gelap Malam: Tradisi Sakral Taptu dan Renungan Suci Saka Bhayangkara Bukittinggi

Setiap tahun, tepatnya pada malam tanggal 16 Agustus, ada pemandangan berbeda yang mewarnai kota Bukittinggi. Bagi para anggota Pramuka, khususnya Saka Bhayangkara, malam ini bukan sekadar malam menjelang hari libur, melainkan sebuah panggilan tugas yang wajib dilaksanakan untuk mengenang mereka yang telah tiada demi negeri ini. Rangkaian kegiatan sakral ini dikenal dengan nama Taptu dan Renungan Suci, sebuah tradisi panjang yang menjembatani masa lalu perjuangan dengan semangat generasi masa kini.

Kegiatan bermula dengan upacara Taptu yang berpusat di area Polresta Bukittinggi dan sekitarnya. Suasana yang biasanya terang benderang oleh lampu kota, seketika berubah drastis. Seluruh penerangan jalan dan gedung di sekitar lokasi sengaja dipadamkan, menciptakan kegelapan yang hening dan penuh makna. Di tengah kegelapan itulah, satu per satu obor yang terbuat dari bambu mulai disulut. Cahaya oranye yang menari-nari di tengah gelap malam menjadi simbol kuat bahwa semangat perjuangan tidak pernah padam, meski dikelilingi tantangan yang gelap sekalipun.

Ketika ratusan obor telah menyala, barisan pawai mulai bergerak. Para anggota Pramuka bersama elemen masyarakat lainnya melakukan parade mengelilingi pusat kota Bukittinggi. Jika dilihat dari kejauhan, iring-iringan ini tampak seperti sungai api yang mengalir membelah kota. Derap langkah kaki mereka yang serentak seolah menegaskan bahwa kota ini siap menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80 dengan semangat yang membara.

Namun, pawai obor hanyalah permulaan dari malam yang panjang. Setelah ingar-bingar parade usai, suasana berubah menjadi sangat khidmat dan emosional ketika para anggota Saka Bhayangkara bergerak menuju Taman Makam Pahlawan. Di sini, tidak ada lagi suara riuh atau derap langkah tegas. Yang ada hanyalah kesunyian malam yang membalut rasa hormat.

Dari tengah malam hingga waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari, para anggota duduk bersimpuh di samping pusara para pahlawan. Tanpa penerangan lampu yang menyilaukan, mereka hanya bermodalkan satu batang lilin kecil di tangan. Dalam remang cahaya lilin yang temaram, mereka memanjatkan doa, merenung, dan seolah “berbicara” dalam hati dengan para pendahulu yang jasadnya berbaring tenang di sana.

Bagi Saka Bhayangkara Bukittinggi, Malam Taptu dan Renungan Suci ini adalah momen di mana batas waktu seolah lebur. Generasi muda ini tidak hanya sedang melakukan ritual tahunan, tetapi sedang menyerap energi perjuangan dari para pahlawan yang telah gugur. Di bawah langit subuh Bukittinggi, mereka berjanji dalam hati untuk terus menjaga Indonesia tetap bercahaya, seperti lilin yang mereka genggam erat hingga fajar menyingsing.

(Simak juga liputan resmi kegiatan Taptu Bukittinggi jelang HUT RI ke-80 melalui laman resmi Pemkot Bukittinggi)

https://www.bukittinggikota.go.id/news_detail/2371/Pawai%20Obor%20Taptu%20Bukittinggi%20Jelang%20Peringatan%20HUT%20RI%20ke-80

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More Articles & Posts